GuidePedia

0
Menunjuk DPA Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Bali Nomor : 918/016/DPA/2019 Tanggal 31 Desember 2018 Program Peningkatan Kepengawasan Koperasi pada kegiatan pemeriksaan kelembagaan dan usaha koperasi terdapat kegiatan Focos Group Discution (FGD) yang dilaksanakan oleh Dinas Koperasi UMKM Provinsi Bali  Senin, (15/4) bertempat di Ruang Rapat Melati Dinas Koperasi UMKM Provinsi Bali, Jl. D.I. Penjaitan Niti Mandala Renon Denpasar yang dihadiri oleh Pengurus/Pengelola Koperasi Nivo Provinsi Bali.

Kegiatan FGD tersebut difasilitasi dua orang narasumber yang juga merupakan praktisi koperasi yaitu F.X. Joniono Raharjo, Pengurus Puskopdit Bali Artha Guna/Pengurus Inkopdit Indonesia/Praktisi Hukum dan I Wayan Murja, Pengurus KSP Ema Duta Mandiri/Direktur  di salah satu BPR di Bali . 

Sukses Bisnis Simpan Pinjam Koperasi disampaikan oleh I Wayan Murja dan F.X. Joniono Raharjo tentang membangun profesionalitas koperasi keuangan dalam menghadapi tantangan di era digital.

FGD dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi UMKM Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra, SE, MM. Dalam sambutannya ia menyampaikan,"Pengawasan yang dilakukan oleh dinas koperasi berangkat dari hasil perolehan penilaian kesehatan koperasi, yang menjadi perhatian adalah hasil penilaian kesehatan koperasi dengan predikat "Dalam Pengawasan dan Pengawasan Khusus". 

Dalam pengawasan koperasi oleh dinas koperasi meliputi pemeriksaan kegiatan Unit Simpan Pinjam koperasi, NIK, Sertifikasi Kompetensi, Pajak, BPJS  Kesehatan/Ketenagakerjaan.

Sedangkan Dalam Pengawasan Khusus, Dinas Koperasi melakukan monitoring terhadap  laporan keuangan koperasi yang rugi, tidak RAT, tidak memudahkan anggota, ada pengaduan/info negatif dari masyarakat, laporan triwulan yang tidak tertib.

I Wayan Murja memaparkan bahwa koperasi mesti menonjol, visi dan misi mesti jelas dan terukur, pengelola hendaknya mempunyai pengetahun yang cukup tentang koperasi, sikap yang profesional yang mengelola koperasi dan didukung dengan keahlian yang memadai. Koperasi semestinya bertindak efektif dan efisien dalam mengelola sumber daya manusia (berdaya guna dan berhasil guna). Pengelola koperasi seyogyakan memahami cara mengantisipasi resiko operasional (resiko kredit, resiko likuiditas). Pengurus/pengelola koperasi sangat perlu melakukan Analisa SWOT terhadap kinerja koperasinya  dan welcome terhadap pemeriksaan baik yang dilakukan oleh pengawas maupun akuntan publik 

F.X. Joniono mengajak peserta memahami tantangan - tantangan koperasi. Tantanan pertama seperti kredibilitas (undang - undang koperasi yang lima tahun terakhir belum berubah, pajak koperasi yang semstinya khusus transaksi diluar anggota, SHU bukan menjadi tujuan utama koperasi melainkan sisa dari pendapatan koperasi, KUR tidak diberikan pada koperasi melainkan perbankan).

Tantangan kedua adalah teknologi digital (digital transformasi, people, data dan analistik (ktp, transaksi non tunai) dan new entransts (fintech dan agen). Joniono mengajak pengelola koperasi untuk membangun profesionalitas lembaga keuangan dalam menangani resiko pengelolaan keuangan.

Aspek yang tak kalah penting dalam tata kelola yang baik adalah kepatuhan baik hukum, usaha dan keuangan serta transaksi). Sebagai seorang pengurus/pengelola koperasi wajib memahami tentang peraturan kementerian koperasi, undang - undang koperasi dan lainnya karena koperasi merupakan lembaga keuangan profesional seperti perbankan cuma pengawasannya yang berbeda, koperasi dibawah pengawasan kementerian koperasi sedangkan bank dibawah pengawasan Bank Indonesia.

Manajer KSP Kopdit Kubu Bingin Bali, Dewa Ayu Putriani, SE hadir ditengah - tengah peserta FGD dan ikut berpartisipasi juga dalam sesi tanya - jawab. Ia menanyakan bagaimana kiat - kiat mengelola likuiditas (likuiditas turun maupun naik) dan mengelola resiko kredit sehingga koperasi layak dinyatakan lembaga profesional.

Dari pemaparan kedua narasumber semua peserta sangat antosias mendengarkan dan ambil bagian dalam sesi tersebut.

FGD ditutup dengan pembagian makan siang.

Posting Komentar

 
Top