GuidePedia

0

Pura Taman Mayura
Selama 3 hari 2 malam tepatnya 19 - 21 September 2017 Rombongan Kopdit Kubu Bingin melasanakan Kegiatan Tirta Yatra Ke Lombok. 

Rombongan berjumlah 29 orang, terdiri dari Pengurus, Pengawas, Manajer, Anggota dan Calon Anggota Kopdit Kubu Bingin. 

Walaupun mengeluarkan anggaran swadaya Rp 700.000,- perorang peserta tetap semangat.  Keikhlasan dan ketulusan peserta untuk melakukan persembahyangan ke Lombok  menghantarkan kegiatan tirta yatra ini berjalan lancar.
Selama perjalanan tidak ada keluhan dari peserta, semua sehat  dan menikmati perjalanan, kendatipun awalnya agak merasa khawatir terkait informasi Erupsi Gunung Agung. Dengan keyakinan dan tekad yang kuat rombongan percaya Hyang Widhi pasti melindungi mereka.

Rombongan berangkat dengan menggunakan jasa Bis Kanaya pada pukul : 20.00 Wita pada tanggal 19 September 2017 berkumpul di Kantor Pusat Kemenuh Gianyar dan sebagian di jemput langsung oleh Bis di Blahbatuh, Buruan Gianyar.

Rombongan dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Kopdit Kubu Bingin, I Nyoman Arjawa, S.Sn.

Tiba di Pelabuhan Padangbai, rombongan naik kapal laut dan tiba di Pelabuham Lembar Lombok dini hari dan langsung menuju ke Hotel Mataram untuk menikmati istirahat sejenak dan MCK.

Hotel Mataram
Sarapan pagi pada hari pertama di Lombok adalah disalah satu rumah makan yang tidak jauh dari Hotel Mataram.

Menyelesaikan sarapan, rombongan memulai kegiatan Tirta Yatra di Pura Jagatnatha Mayura, disana mereka melakukan persembahyangan, diberikan sedikit wejangan sejarah pura tersebut oleh seorang mangku disana dan terakhir peserta menghaturkan dana punia seikhlasnya dikoordinir langsung oleh pemimpin rombongan.
Di Pura Taman Mayura, bukti sejarah kekuasan kerajaan Bali yaitu Anak Agung Ngurah Karangasem  yang berkuasa di Kerajaan Mataram  Lombok sekitar tahun 1866 dimana awalnya tempat ini dinamakan Taman Klepug yang diambil dari suara air yang jatuh ke kolam.


Persembahyangan berikutnya ke Pura Lingsar. Di Pura ini mungkin  satu - satunya tempat suci Hindu di dunia, dimana Hindu dan Muslim datang untuk melakukan ritual. Kerukunan antar umat beragama nampak di Lombok, umat Islam dan Hindu hidup berdampingan, bahkan di Pura Lingsar, Umat Hindu dan Islam mengelola dan beribadah disana bersama-sama.
Pura Batu Bolong

Tepat siang hari, rombongan tiba di Pura Suranadi. Sebelum melakukan persembahyangan di Pura Suranadi, rombongan melakukan pembersihan/penglukatan dipancoran suci dengan memakai kain putih yang sudah disediakan dipura tersebut. Mandi di Pancuran Suranadi ini diyakini masyarakat setempat bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan dipercaya akan mendapatkan kehidupan yang baru atau "suranadi". Setelah melakukan persembahyangan rombongan menikmati makanan tradisional Lombok yaitu Sate Bulayak dan Tipat santok yang lezat.

Persembahyangan selanjutnya adalah ke Pura Narmada. Disini terlihat  bentuk miniatur dari Gunung Rinjani itu sendiri. Pura ini dibuat dibagian atas dan diberi puluhan anak tangga. Hal ini dimaksudkan agar dengan menaiki anak tangga tersebut seolah-olah sedang mendaki Gunung Rinjani. Fungsi dari Pura Narmada ini sendiri sampai saat ini digunakan untuk persembahan hasil bumi sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Selain itu, dibawah Pura dibuatkan kolam dengan tiga sumber mata air yang menggambarkan seolah-olah kolam tersebut adalah Danau Segara Anak. Mengapa kolam ini disebut kolam awet muda? Karena kolam ini berasal dari tiga sumber yang dipercaya banyak mengandung mineral yang bisa membuat siapa saja yang minum atau hanya sekedar membasuh muka disana menjadi lebih awet muda. 


Pelabuhan Lembar
Tibalah rombongan di Pura Gunug Baleku, untuk mencapai pura ini rombongan harus melewati jalan persawahan dan jaraknya cukup jauh dari jalan umum. Di Pura ini mengisahkan sejarah perjalanan Danghyang Nirartha ke lombok. Kata Baleku berarti “rumah saya”. Pura melanting ini didirikan untuk mengenang putri  perempuan Dang Hyang Dwijendra yang bernama Dewi Ayu Mas. Gunung Baleku adalah tempat pertama kali Dang Hyang Dwijendra menginjakkan kaki ditanah Lombok kurang lebih pada abad ke-13, di pulau Lombok Dang Hyang Dwijendra dijuluki dengan sebutan Sangupati, kata Sangupati berasal dari urat kata Sang Utpeti yang berarti “yang menciptakan Panca Tirtha” yang di Suranadi.

Sore hari rombongan tirta yatra tiba  di Pura Gunung Sari dan melakukan persembahyangan bersama. Konon menurut cerita pura ini mempunyai sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, yang diyakini sebagai pura keramat dengan banyak keunikan-keunikan. 

Pura Gunung Sari
Pura terakhir yang dikunjungi rombongan adalah Pura Batu Bolong. Peserta tiba di Pura ini hampir mendekati petang. Nama pura ini diambil dari bentuk batu hitam dibangun, batu besar yang berbentuk bukit memiliki lubang dibagian pesisir pantai, lubang ini dulunya merupakan akses jalan bagi masyarakat sekitar untuk mencari kayu ke hutan Senggigi. Ditempat ini Dang Hyang Dwijendra disebutkan sempat menolong beberapa orang bendega/nelayan perahu yang karam dekat ponjok batu. Para bendega asal Lombok yang diselamatkan beliau itu konon mengantarkan Dang Hyang Dwijendra atau disebut juga Ida Peranda Sakti Wawu Rauh sampai ke Lombok dan menjejakkan aki di Batu Bolong.

Menyelesaikan persembahyangan di Pura Batu Bolong, rombongan kembali ke Hotel Mataram untuk menikmati istirahat dan makan malam di area hotel.

Keesokan harinya pada tanggal 21 September 2017 rombongan check out dari hotel dan membeli oleh - oleh Khas Lombok di Pasar Cakra Negara. Rombongan tiba di Bali pada malam hari pada pukul 21.00 Wita. Sukses Kopdit Kubu Bingin sampai ketemu di tirta yatra berikutnya (Ayu)

Posting Komentar

 
Top